Kutemukan Seseorang yang Mengubah Hidupku di UNPAD

Foto saat mengabadikan pintu masuk UNPAD dengan simbolnya yang khas

Saat kuliah aku sebenarnya termasuk mahasiswa kupu-kupu. Tidak terlalu aktif di organisasi tetapi tetap mengikuti UKM kemahasiswaan, dipaksakan. Hidupku semasa kuliah tidak terlalu flat, alias membosankan.

Aku memiliki circle pertemanan yang menyukai badminton, saat mumet dengan kegiatan perkuliahan “kapan badmin guys“, ucap mahasiswa yang udah ngebul akibat tugas diluar nalar haha.

Setelah aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, aku sering sekali menjauhkan diriku dari kata “pacaran”, aku memikirkan itu sebagai hal yang tidak begitu penting.

Saking fokusnya aku pada perkuliahan sampai tidak ada ruang dihatiku untuk sesi romansa lagi, sehingga tidak merasakan kebutuhan akan seseorang.

Saat semester akhir, aku sibuk mengerjakan skripsi. Disitu mulailah agak stress. Barulah aku merasakan kesepian yang sangat-sangat. Aku merasa bahwa aku juga ingin dicintai.

Aku termasuk orang yang tidak bisa melakukan sesuatu (nyari pacar) karena FOMO. Big no!  bukannya tidak mau berusaha ya, aku hanya ingin seperti air saja. Disatukan oleh takdir.

Kemudian aku berhasil lulus dari UNPAD, tibalah waktunya aku bekerja. Singkat cerita aku menyetujui untuk bekerja di pilot project pertanian tentang smart farming. Ladang yang keras untu mengasah mental.

Bos menyuruhku untuk magang dahulu di tempat riset suatu perusahaan yang berlokasi di kampus UNPAD. Jadinya vibes kuliah masih terasa banget walaupun udah jadi alumni.

Saat pertama kali aku berkenalan dengan karyawan riset di sana, mata ku tertuju pada seorang wanita, ntah sedang apa. Otak aku langsung menuju pada kegiatan penelitian. “Oh ini paling lagi pengamatan”.

Aku berkenalan dengannya, waktu itu aku merasa bahwa dia termasuk orang yang cuek dan dingin. Kemudian setelah tiga hari aku mulai mengobrol ringan.

Sosoknya tidak terlalu tinggi, memiliki kulit putih yang cerah, dan mata yang memiliki sorot tajam hingga aku bisa tenggelam dibuatnya.

Sampai suatu ketika dia menyadari bahwa aku memiliki tangan yang tremor saat memegang pinset. Pokonya aku memiliki waktu berdua dengan dia cukup banyak karena aku memang disuruh untuk mempelajari riset di perusahaan ini.

Setelah itu aku mulai menceritakan pengalaman aku saat kuliah dengan membawa tremor. Sampai aku mengobrol sangat dalam. Entah kenapa, aku merasa dia berbeda, mau mendengar dan tidak meremehkan ceritaku.

Akhirnya kami pun sering bertukar cerita, sampai setelah dua minggu magang, aku merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya ingin terus mengobrol dan senang sekali menatapnya. Kadang aku juga mulai merasa kesal ketika ada lelaki lain yang mendekatinya.

Padahal ada beberapa wanita yang mencoba untuk mendekati aku, tetapi dia sangatlah berbeda. Aku dapat merasakan hal tersebut. Aku sangat nyaman dengannya, dengan sikapnya dan semua tentangnya.

Setelah satu bulan, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan ku sendiri tentangnya, karena waktu kita terbatas di tempat kerja. Aku menulis kalimat panjang melalui whatsapp. Sampai dia yakin dan mau menerima ku.

Aku sangatlah beruntung, dia menerima diriku. Bukan rendah diri, tetapi untuk takaran orang biasa saja sepertiku, rasanya mirip dengan mimpi.

Awalnya banyak orang meragukan hubungan kita, tetapi diriku sendiri tidak pernah meragukan niat yang sudah aku bulatkan.

Dialah wanita yang selama ini aku cari dari milyaran orang di dunia ini. Seribu kali aku meyakinkan, bahwa aku serius dengannya. Sampai perlahan dia dapat mempercayai diriku.

Aku bisa bertahan sampai sejauh ini karena dirinya, bertahan di tempat kerja yang menguras mental dan tenaga. Aku sangat bersyukur.

Kini hidupku bukan tentang diri ini, tapi tentang bagaimana caranya aku menjadi lebih baik setiap harinya untuk memperjuangkanmu.

Untuk orang yang aku tuju, kamu tidak lain adalah orangnya, Ila.

Terima kasih.

Foto saat kita bertemu setelah 4 bulan LDR


Discover more from Qorinotes

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Qori Avatar

Published by

Categories:

Leave a comment