
Kenalin nama aku Ayu, aku adalah anak tunggal yang lahir dan besar di Jakarta. Semenjak COVID-19 melanda, aku dan keluarga pindah ke sebuah desa terpencil di Jawa Barat tempat nenek dari ayah kami berasal.
Detail tempatnya aku rahasiakan, tetapi desanya sangat indah. Sejauh mata memandang banyak persawahan dan juga gunung. Hijau sekali, rasanya setiap hari aku pergi liburan.
Kami sekeluarga memiliki tabungan sebanyak 1 milyar dan aku bekerja WFH dengan perusahaan yang berbasis di Norwegia.
Kami membeli rumah yang nyaman dan juga sepetak kebun untuk ditanami Palawija. Kami berencana mendirikan bisnis restoran yang nantinya sebagian kebutuhan sayuran akan disuplai melalui kebun sendiri.
Jurus penghematan bisnis, ekonomi sirkular, dan kapitalisme modern. Keluarga kami jalankan semua itu, sikat abis pokonya
Satu tahun pertama bisnis kami berjalan dengan baik, keuntungan yang dihasilkan sudah lebih dari cukup untuk membuka cabang baru di desa lain.
Kami hidup bahagia layaknya mimpi orang Indonesia, slow living. Sampai kami merasa bahwa hidup itu indah, harus dinikmati.
Aku bingung, kenapa orang tidak bisa menikmati hidup?
ah sudahlah
Pada suatu ketika aku yang mulai senang untuk berkebun disela-sela pekerjaanku. Kebun kami tidak jauh dari rumah, hanya berjarak 250 meter.
Tetapi yang menjadi masalah adalah jalannya harus melewati perkebunan lada yang cukup rindang, tetapi bukan halangan bagi anak muda berumur 24 tahun sepertiku yang memiliki tekad kuat.
Bagiku berkebun itu seperti memiliki dunia sendiri, melihat tanaman tumbuh menjadi ajang healing yang mengasyikkan. Aku lebih suka menyendiri saat berkebun.
Saat ini aku menanam tomat, cabai, selada, sawi, caisim, dan ubi. Sebagian digunakan untuk bahan baku usaha restoran kami.
Saat itu hari Selasa. Walaupun aku suka menyendiri dalam berkebun, ogah juga sebenarnya kalau harus angkat benda berat seperti sekarung kohe.
Tugasku sekarang adalah membuat lubang tanam untuk bibit tomat. Fyuhh capek kali cuy , saat menggali aku menemukan benda keras seperti kaleng.
Penteng, bunyinya nyaring. Karena menghalangi, lantas aku menggalinya sampai aku mengangkat benda tersebut.
Kuamati sebentar, kaleng khonguan seruku! kenapa ada orang yang menanam kaleng kue lebaran ini di kebunku.
Apakah pemilik sebelumnya sedang mencoba menanam pohon yang berbuah kaleng khonguan untuk dijual saat lebaran?.
Tentunya jika itu benar, aku juga ingin melakukan hal yang sama. Bodoh kataku dengan sedikit kesal.
Ternyata ada hal aneh, kaleng itu memiliki tulisan berbahasa sunda yang diukir “Hirup abi oyag karena muka kaleng khonguan ieu, eusina mangrupa buku anu teu apal penulisna saha, munjung ka iblis, jauhkeun tihirup anjen“
Aku tidak bisa bahasa Sunda, pake aja lah translate. Terkejut bukan main, di zaman sekarang masih ada orang percaya takhayul?
Bagiku yang berpatokan ke Adam smith dan sering mendengar podcast motivasi bisnis di era AI. Tidak masuk akal sampai tertawa terpingkal-pingkal.
Sialnya tutup kalengnya di lem menggunakan aspal, niat banget nih orang.
Aku membukanya dengan cara memukul tutupnya dengan lingis, aku tak peduli soal isinya, mau rusak atau tidak. Bukan urusan gue.
Setelah terbuka, kalengnya mengeluarkan bau busuk, seperti bau kentut. Sialan, apa aku dikerjain orang?
Akhirnya kutemukan buku tersebut, buku saku. Pantesan muat di kaleng. Sampulnya hitam dan terbuat dari kulit pohon yang memiliki simbol kambing dengan tanduk yang terpotong sebagian.
Hari sudah menjelang dzuhur, semakin panas. Akhirnya pekerjaan menanam tomat aku tunda karena buku unik ini. Sesampainya di rumah, aku langsung bersih-bersih dan tidur siang.
Saat bangun jam 16.30, aku kaget karena aku mencium bau yang sangat busuk! mirip seperti saat di kebun ketika kaleng itu terbuka.
Aku memanggil orang tuaku, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku sangat penasaran dan keluar kamar untuk mengecek dari mana asal bau ini.
Sambil menggosok mata karena 1/3 nyawaku belum terkumpul. Kaget!! saat membuka pintu aku merasa ini bukanlah rumahku.
Banyak kepala kambing berceceran dan darah, layaknya dipotong dan dilemparkan ke rumahku. Lebih anehnya lagi, semua kepala kambing tersebut hanya memiliki satu tanduk.
Oh tidak, terpotong. Satunya lagi terpotong. Bau busuk ini berasal dari ratusan kepala kambing hitam yang memenuhi rumahku.
Aku tidak ingin mengingatnya lagi karena suasananya benar-benar mengerikan.
Saat aku ingin menutup pintu kamar, kepala kambing yang setengahnya sudah penuh belatung dan terlihat bagian tulangnya tiba-tiba berbicara padaku.
Rasanya ingin menangis, aku tersentak dan jatuh karena mencoba berlari tetapi kepentok pintu. Tubuhku tidak bisa bergerak dan seolah ada yang menahan. Secara perlahan, semua kepala kambing tersebut menyatu.
Darah menjadi urat dan kepala-kepala tersebut membuat fitur seorang manusia. Setelah itu diraihnya lah kepala kambing yang berbicara tersebut dan dipasangkan pada fitur bentuk tubuh yang baru terbentuk.
Manusia berkepala kambing! ucapku.
Lalu dia berbicara padaku, “Ayu, aku bisa menggabulkan semua keinginanmu”
Aku tidak tahan lagi, akhirnya aku menangis ngeri. Aku jawab, “tidak, aku tidak mau!”.
“Ketika kamu mencari keadilan, kenapa sangat susah Ayu? karena keadilan itu tidak ada di dunia ini!, itu adalah dongeng negeri manusia”
“Kebaikan dan keihklasan hanyalah soal sejauh mana kita menyukainya dan sejauh mana hatimu bisa menahan kehilangan. Tetapi karakter manusia tidak pernah menginginkan kehilangan, yang ada hanyalah pertambahan, Ayu”
“Ini adalah takdir bahwa kau akan membutuhkanku kelak untuk mendapatkan keinginan terdalam yang kamu miliki, untuk menambah kembali apa yang sebenarnya sudah menghilang”
Setelah dia mengatakan kalimat itu, tiba-tiba ada suara mamah “tuan putri, ayo bangun sudah waktunya makan, woy bangun!”. Seketika mataku gelap gulita dan saat membuka mata, itu mimpi!
Tubuhku sangat berkeringat, layaknya sudah melakukan lari marathon dari Sabang sampai Merauke. Aku ingat soal buku itu. Tanpa basa-basi aku langsung membuangnya ke tong sampah.
Sialan, pasti aku parnoan, sampe mimpi takhayul!
Setelah makan, aku bergegas mandi. Badanku terasa lengket karena mimpi aneh tersebut hampir menguras seluruh energiku.
Saat memasuki kamar mandi dan bercermin sebentar, aku kaget karena bayanganku tidak bergerak, membeku. Aku mulai merasa ngeri.
Jantung berdegup kencang, puncaknya adalah cerminku mengeluarkan darah hingga menutup permukaannya sampai aku tidak bisa melihat bayangan beku itu.
Aku berteriak, mamah papah tolong aku, sangat keras sekali. Tiba-tiba ada tangan dari belakang yang mendorong kepalaku mendekat cermin, sampai mataku hanya berjarak 5cm.
Darah yang mengucur deras tersebut terbelah dan bayanganku pada cermin menunjukkan bahwa orang yang mendorongku dan memegang kepalaku, adalah aku sendiri.
Wajahnya mirip denganku tetapi saat kejadian tersebut dia tersenyum aneh, menyeringai, sangat menyeramkan sekali. Giginya sangat tajam seperti harimau.
Bahkan di dalam langit-langit mulutnya terdapat gigi lain yang mengitar, ada lima lapis gigi!
Leave a comment